TRADISI KONTEMPORER "MARRIMPA SALO" DI KABUPATEN SINJAI

Tradisi & kebudayaan yang beragam di indonesia

Indonesia merupakan Negara yang memiliki kepulauan yang terbentang dari sabang sampai merauke, yang didalamnya terdapat beranekaragam budaya atau adat yang berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, Adat istiadat tersebut dilestarikan oleh suatu masyarakat sebagai sesuatu yang berharga.

Budaya dan tradisi yang ada mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat, Tradisi dalam masyarakat ini dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kita ketahui bahwa masih banyak masyarakat yang masih mempertahankan tradisinya karena dianggap sebagai suatu kepercayaan.

Dalam suatu wilayah budaya tumbuh, dianut dan dipertahankan di dalam masyarakat karna dianggap dengan melaksanakan suatu tradisi tertentu akan dihindarkan dari berbagai macam bahaya. Kepercayaan yang diyakini sejak dulu, dimana ada masyarakat maka disitu ada budaya yang berlaku.

kebudayaan masyarakat tersebut masih melestarikan upacara-upacara dan berbagai tradisi, walaupun saat ini tekhnologi dan pola hidup modern telah mulai masuk ke daerahnya, setiap daerah mempunyai tradisi-tradisi yang tetap dilestarikan keberadaannya walaupun ada juga yang sudah tidak dipedulikan lagi.

Seiring perkembangan zaman, dalam masyarakat yang ingin serba praktis dan singkat, banyak budaya dan tradisi dalam masyarakat yang tidak bertahan sampai sekarang. Meskipun demikian, masih banyak juga tradisi yang masih bertahan sampai sekarang.

Suatu budaya tetap dipertahankan apabila dianggap memiliki peranan dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kebudayaan masih dipertahankan sampai sekarang adalah kebudayaan suku Bugis Makassar yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan pulau Sulawesi Selatan yang sekarang terdiri dari dari 23 Kabupaten, di antaranya dua buah Kota Madya.

jika dilihat dari segi kependudukan orang Bugis mendiami Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Polewalimamasa, Enrekang, Luwu, Pare-pare, Pangkep, Barru, dan Maros. Makassar sendiri mendiami Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros dan Pangkajene.

Selanjutnya kita akan membahas mengenai tradisi Marrimpa salo di kabupaten Sinjai

Tradisi Marrimpa Salo di kabupaten sinjai


Di Kabupaten Sinjai Kecamatan Tellulimpoe tepatnya di Desa Bua ada sebuah tradisi yang sudah dilaksanakan sejak dahulu, tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur warga setelah selesai melaksanakan panen. Lokasi tempat pelaksanaan tradisi ini di sungai Appareng yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Sinjai yang terletak di perbatasan antara Desa Bua Kecamatan Tellilimpoe dan Desa Sanjai Kecamatan Sinjai Timur dan dilaksanakan secara bergantian setiap tahun.

Tradisi Marrimpa Salo adalah tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat di dua Desa yaitu Desa Sanjai Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Bua Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten sinjai yang merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas keberhasilan Lao Rumah (panen padi dan jagung) maupun keberhasilan Mappaenre Bale (tangkapanikan) yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Adanya kesadaran warga Desa Bua untuk menjaga dan memertahankan tradisi ini karena mereka menganggap dengan dilaksanakannya tradisi akan menambah keramaian, kebersamaan dan menjaga silaturahmi antar masyarakat, terlaksananya tradisi ini tidak terlepas dari semangat kekeluargaan, dan solidaritas yang tingggi diantara masyarakat Desa Bua dan Desa Sanjai.

Tradisi Marrimpa Salo merupakan tradisi yang dilaksanakan satu kali setahun setiap tanggal 10 Oktober dan sudah menjadi kesepakatan sejak dulu karena dibulan itu warga telah selesai melaksanakan panen dan waktunya sangat cocok karena pada saat itu pasang surut air sedang rendah karena sedang pergantian cuaca (kemarau/hujan).

Upacara adat Marrimpa salo dimulai dengan pembacaan doa oleh para ulama agar pelaksanaan upacara adat Marrimpa salo dapat terlaksana dengan lancar serta mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada acara inti dilaksanakan ritual di sebuah sungai dengan menghalau ikan dari hulu ke muara sungai yaitu Marrimpa salo

Pelaksanaan Marrimpa salo juga menghadirkan beberapa pementasan seni dan permainan rakyat. Banyaknya permainan tradisional yang dirangkaikan dengan pelaksanaan tradisi Marrimpa salo menjadi bukti bahwa masyarakat masih menjaga budaya, tradisi, dan kepercayaan-kepercayaan yang diwariskan nenek moyang mereka. Berikut ini beberapa ritual dalam upacara adat Marrimpa salo

a. Pembacaan doa. Acara ini diawali dengan pembacaan doa oleh para ulama agar pelaksanaan upacara adat marrimpa salo dapat terlaksana dengan lancar serta mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. 

b. Kelompok Paggenrang mulai menjalankan ritual dengan menabuh alat musik gendang dan gong. Hal ini diyakini bahwa tabuhan gendang dan gong adalah pengikat ikan agar tidak pergi jauh.

 c. Prosesi Marrimpa Salo merupakan ritual adat yang dilakukan di sebuah sungai dengan menghalau ikan dari hulu menuju muara sungai dan diikuti kurang lebih 30 buah perahu. Prosesi Marrimpa salo merupakan acara inti dari kegiatan ini. Prosesi marrimpa salo ini, diawali dengan menaiki perahu yang telah disediakan oleh masyarakat Desa Sanjai dan sekitarnya. Setelah itu, perahu tersebut membentuk formasi sesuai dengan yang telah ditentukan dan dengan disertai teriakan dan suara riuh prosesi Marrimpa salo atau menghalau ikan mulai dilakukan. Dua buah perahu penarik jarring tampil di depan. Perahu dengan awak yang menarik tali jarring terus berjalan menuju muara sungai, selanjutnya belle yang berfungsi sebagai perangkap ikan yang telah dihalau ditempatkan dimuara. Setelah itu rombongan parrimpa tiba disisi belle dan dipastikan semua ikan sudah masuk perangkap. 

Pada tahap akhir dari pelaksanaan upacara adat Marrimpa salo, masyarakat dan pengunjung beramai-ramai turun ke belle untuk menangkap ikan. Selanjutnya adalah acara istirahat. Pada acara istirahat ini para pengunjung dan masyarakat bersama-sama menikmati jamuan makan siang. Ikan yang berasal dari hasil tangkapan pada prosesi marrimpa salo ditambah dengan ikan yang telah disediakan panitia pelaksana kegiatan dibakar dan dimakan secara bersama-sama. 

Sambil menikmati makan siang, para undangan dan pengunjung serta masyarakat yang hadir pada acara tersebut dihibur dengan penampilan musik tradisional dan modern. Selain itu, pada acara istirahat ini juga dilaksanakan penerimaan hadiah bagi juara pada festival yang telah diselenggarakan.

Antusias masyarakat yang sangat tinggi dan tetap ingin melaksanakan tradisi ini karena bagi mereka ini adalah warisan para leluhur dan harus tetap dilaksanakan agar menghindarkan dari pengaruh buruk. Maka pelaksanaan tradisi Marrimpa Salo tetap dilaksanakan sampai sekarang.

Perspektif  islam mengenai tradisi Marrimpa salo

Tradisi dan budaya merupakan identitas yang dimiliki setiap daerah salah satunya tradisi marrimpa salo. Dalam tradisi marrimpa salo terdapat nilai-nilai ajaran Islam. Seperti, mendidik manusia agar tetap dapat mempertahankan akar budayanya sendiri serta nilai-nilai kearifan lokal yang sesuai ajaran agama Islam. Berdasarkan hal tersebut, unsur-unsur yang terdapat dalam setiap pelaksanaan tradisi Marrimpa salo mempunyai nilai diantaranya:

1. Syariah

Salah satu unsur penting dalam pelaksanaan Adat Marrimpa salo yaitu pelaksanaan dzikir dan doa bersama sebelum pelaksanaan adat Marrimpa salo. Doa merupakan ucapan selamat datang dan pengakuan kita sebagai hamba Allah yang lemah, tidak berdaya, tidak memiliki kemampuan apapun tanpa Allah, kita hanya bisa berserah diri kepadanya, memohon segala ampunan, pertolongan, mencari apa yang diinginkan dan merupakan salah satu penyalur kita berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan dzikir adalah sebuah aktivitas ibadah dalam umat Muslim untuk mengingat Allah dengan menyebut dan memuji nama Allah serta merupakan satu kewajiban yang tercantum dalam Al-Qur'an. Seperti yang dilakukan tokoh agama dan masyarakat sebelum memulai kegiatan upacara adat Marrimpa salo untuk memanjatkan doa kepada Allah swt, agar setiap yang kita laksanakan mendapat berkah dan rahmat dari Allah swt, dan mendapatkan perlindungan dari Allah Swt.

Pada puncak acara marrimpa salo juga dihadirkan ustadz untuk memberikan siraman rohani dan pemahaman kepada masyarakat mengenai pelaksanaan upacara adat marrimpa salo bahwa kegiatan ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Akidah

Nilai akidah yang terdapat dalam upacara adat Marrimpa salo adalah ungkapan puji syukur para petani dan nelayan atas keberhasilan panen padi dan jagung dan keberhasilan menangkap ikan bagi para nelayan sehingga mereka membawa hasil panen ke lokasi upacara adat Marrimpa salo untuk dinikmati secara bersama.

Tradisi marrimpa salo sudah menjadi ciri khas masyarakat di Desa Sanjai sekaligus sebagai tanda kesyukuran atas melimpahnya hasil panen padi dan jagung maupun hasil tangkapan ikan yang telah didapatkan. Oleh karena itu, Pelaksanaan upacara adat Marrimpa salo tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an dan Hadist dan sesuai dengan ajaran Islam.

3. Akhlak

Nilai-nilai dakwah Islam yang berkaitan dengan akhlak dalam tradisi Marrimpa salo di Desa Sanjai tercermin dari sikap tolong-menolong dan kerjasama antara masyarakat petani dan nelayan untuk menyukseskan acara marrimpa salo ini. Salah satu bentuk kerukunan masyarakat Desa Sanjai yang lahir dari tradisi Marrimpa salo yaitu sikap saling tolong menolong dan kerjasama dalam pelaksanaan acara Marrimpa salo.    

Acara Marrimpa salo juga mengandung nilai-nilai dakwah Islam yaitu akhlak terhadap lingkungan. Akhlak terhadap lingkungan adalah perilaku atau perbuatan kita terhadap lingkungan. Akhlak terhadap lingkungan yaitu manusia tidak diperbolehkan memanfaatkan sumber daya alam dengan jalan mengeksploitasi secara besar-besaran, sehingga timbul ketidakseimbangan suatu alam dan kerusakan bumi.

Berdasarkan QS al-Jatsiyah/45:12 yang artinya:

“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia - Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur”.

Berdasarkan ayat dari bentuk nilai-nilai dakwah Islam yang terdapat pada upacara adat Marrimpa salo yaitu menjaga laut dan sungai karena cara penangkapannya menggunakan alat tradisional dengan cara menghalau ikan dari hulu menuju muara sungai menggunakan jarring dan tidak menggunakan bahan kimia. Dalam Al-Qur‟an surah Al-Jatsiyah ayat 12 bahwa nilai-nilai dakwah Islam yang terdapat pada upacara adat marrimpa salo, tidak melanggar secara menurut islam. namun demikian, sebagai seorang muslim tetap harus hati-hati menghadapi adatistiadat ini, agar tidak terjebak pada praktik –praktik yang sebenarnya betentangan dengan syariat-syariat Islam. Kendati dakwah telah di Islami sasikan sedimikian rupa dan memiliki kesamaan dengan ajaran Islam,tidak berarti seratus persen sama dan terlepas dari upaya purifikasi.

 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan materi diatas dapat diambil bahwa tradisi adat Marripa salo di kabupaten sinjai merupakan kegiatan adat yang tidak bertentangan ajaran islam karena terdapat beberapa nilai nilai islam yang terdapat didalamnya sehingga bagi saya tradisi ini baik untuk dilanjutkan karena masih mengedepankan nilai nilai agama pada pelaksanaannya dan juga memiliki manfaat yang baik untuk meningkatkan silahturahmi antar masyarakat kota sinjai dimana disana dapat berkumpul semua kalangan masyarakat untuk makan bersama tanpa memandang pangkat dan jabatan yang dimiliki juga tumbuhnya rasa solidaritas antar masyarakat.

Penulis: Helmy ahmed  dengan  Nim 60900122068
 

Terima kasih telah melihat blog ini kurang dan lebihnya bisa di tulis di kolom komentar untuk pembelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi kedepannya
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Comments